still not getting any

disfungsi economicrobacteria

Akhir tahun 2014, hari ini kami masih seperti bertempur, untuk memperbaiki haritage, legacy, harta warisan yang di berkahi pada kami, para pejuang out sourcher, kita menatap apa makna ikatan kecil yang menyatukan indonesia, oh tidak bukan, terlalu luas.. Lebih nyamannya yang menyatukan individu, manusia.

Kita bicara tentang uang, money, fulus, atau apa pun kata bahasa yang menggambarkan secarik kertas lusuh dan busuk yang terselip di saku kita sehari hari. Yang tanpanya, seorang istri bisa berubah menjadi lebih buas dibanding gorila gila yang mengidap rabies stadium 4. sebuah kertas yang menjadi manifestasi atas kebutuhan binal terdalam dari otak manusia akan hawa nafsunya yang tidak bisa ia tahan.. Bentuk nyata dari keinginan kita atas segala hal

Sedih rasanya mengetahui tatanan masyarakat kita, kini sebagian besar menjadi penyembah kertas itu, padahal awalnya benda itu diciptakan untuk membantu manusia.. Tapi kenapa seperti ini.. Tak bisa dipungkiri, pengaruh warisan kebijakan yang lama, menjadi alasan mereka mau menanam jutaan pohon karet yang mereka impikan menjadi secarik berhala tadi. Apa ini akumulasi dari kebutaan dan ketidak pedulian kita terhadap apa yang terjadi.. Atau memang bagini aturan hidup sebenarnya, sesuai seperti teori kekacauan.. Kacau.

Ketika harga karet dunia runtuh, ekonomi dunia bergeser dari nyaman menjadi gerah, bagi masyarakat kecil terpencil yang hidup seperti mikroba, menggumpal dan menghasilkan enzim karet bagi dunia para funggus dan tanaman tanaman penyerap. Tapi kini mereka tidak terlalu nyaman,  stok dan jumlah penghasil karet dari dunia lain juga ikut serta dalam pasar besar. Belum lagi masyarakat cerdas yang makmur disana yang lebih kreatif dari bangsa kita, bikin karet cuman dari remah remah sampah,  air tuba, dan  zat gaib lainnya yang mereka rekayasa dari otak mereka yang cerdas.. Dan kita harus bagaimana? Tanya seorang petani karet yang harus menyadap karet sepanjang hari hanya untuk menghasilkan sepikul karet dalam waktu seminggu, yang akhirnya di hargai sebesar 500 ribu rupiah,  tidak berbanding dengan harga kebutuhan yang mencekik mereka, seperti hantu yang muncul dari bayangan kelam  nan paling gelap (to be continue)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: