still not getting any

tentang karet

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Tanaman karet memiliki peranan yang besar dalam kehidupan perekonomian Indonesia. Banyak masyarakat yang hidup dengan mengandalkan perkebunan karet sebagai komoditas usahanya dan khususnya bagi mereka yang tinggal di pedesaan.
Total luas perkebunan karet Indonesia mencapai 3 juta hektar lebih, dan termasuk sebagai yang terluas didunia. Pengolahan awal lateks atau getah karet sebelum diolah di pabrik pengolahan karet menjadi bahan baku karet alam seperti crepe, sheet, lateks pusingan dan sebagainya juga masih diusahakan secara sederhana oleh masyarakat, sehingga mutu karet yang dihasilkan menjadi memprihatinkan sehingga harga jual menjadi rendah.
Di Kalimantan, lateks atau getah karet juga merupakan salah satu komoditas utama usaha rakyat, berupa hasil perkebunan yang kebanyakan dikelola oleh masyarakat khususnya di daerah pedesaan. Dalam tahap awal, petani karet biasanya melakukan pengolahan lateks secara sederhana sebelum dijual ke pengumpul (pabrik karet), adapun pengolahan yang dilakukan adalah dengan melakukan prakoagulasi pada lateks sehingga menjadi berbentuk padatan dengan menggunakan koagulan yang lazim digunakan oleh masyarakat. Karet hasil olahan masyarakat ini lazim disebut sebagai bokar, atau “bahan olahan karet rakyat”, hasil olahannya berupa lump dan slab. Bokar merupakan komoditi utama suatu pedesaan. Terutama pedesaan yang letaknya di pedalaman. Dari berbagai pilihan komoditas tani yang ada, karet justru menjadi pilihan yang banyak disukai karena produktifitasnya yang tinggi, dan yang paling penting ia tidak tergantung dengan musim panen, seperti halnya produk tani yang lain. Selain sebagai usaha sampingan tani maupun sebagai sumber penghasilan utama, karet dianggap mampu memberikan kontribusi pendapatan bagi petani secara berkesinambungan. Sehingga dari hal ini suatu desa mampu ikut memberikan kontribusi dalam bidang ekonomi bagi negara.

Getah karet atau lateks pada saat mulai keluar dari pohon hingga beberapa jam setelah dilakukan penyadapan dari pohonnya masih berupa cairan, tetapi menurut teori setelah kurang lebih 8 jam lateks mulai mengental dan selanjutnya membentuk gumpalan karet, proses penggumpalan inilah yang lazim dikenal sebagai proses prakoagulasi. Proses prakoagulasi pada getah karet terjadi akibat rusaknya kemantapan bagian koloidal yang terkandung dalam lateks (getah karet). Waktu penggumpalan yang lama ini dapat lebih dipersingkat dengan menambahkan suatu koagulan pada lateks tersebut. Penggumpalan (prakoagulasi) yang terjadi dapat dibagi dua yakni, penggumpalan spontan dan penggumpalan buatan, penggumpalan spontan terjadi akibat pengaruh enzim dan bakteri, hal ini ditandai dengan terjadinya perubahan aroma dari yang tadinya beraroma segar akan tercium menjadi aroma yang busuk pada hari berikutnya, sedangkan penggumpalan buatan biasanya dilakukan dengan penambahan asam formiat (asam semut), atau suatu senyawa yang mampu bakerja sebagai koagulan pada lateks.

Penggunaan koagulan yang disarankan pemerintah saat ini sedang digalakan besar-besaran bagi petani karet, seperti penggunaan asam formiat (asam semut) maupun deorub-K. Tetapi diakui oleh pemerintah sendiri, bahwa pemasaran produk-produk seperti ini ke desa-desa yang memiliki daya beli yang rendah, dirasa cukup sulit. Terutama apabila masih dijual dengan harga yang relatif tinggi menurut sudut pandang warga desa. Hal ini disebabkan produsen utama asam formiat dan deorab-K masih berasal dari luar kalimantan, yakni dari sumatra dan jawa.
Penggunaan jenis koagulan pada karet lateks condong tergantung dari latar belakang si petani karet sendiri. Bila petani tersebut melakukan penyadapan karet sebagai usaha sampingan dari bertani. Ia akan condong menggunakan NPK dan tawas sisa dari pemupukan lahan musim yang lalu sebagai koagulan, begitu pula untuk petani dengan usaha sampingan berkebun sayur. Maka ia lebih condong menggunakan tongkol nanas sisa panen buah, maupun umbi gadung. Akar umbi pohon gadung dan tongkol nanas, sangat mudah ditemukan di sekitar masyarakat pedesaan. Umbi akar pohon gadung sangat banyak terdapat dihutan tropis, terutama di hutan yang ada di pedalaman Kalimanatan, hidup disekitar perkebunan karet rakyat, tumbuh secara liar sehingga sering dianggap sebagai tanaman pengganggu karena dianggap beracun. Sedangkan tongkol nanas dapat ditemukan dengan mudah dari sampah-sampah buah nanas yang dibuang begitu saja oleh masyarakat desa, sehingga secara tidak langsung penggunaan tongkol buah nanas sebagai koagulan alternatif petani karet juga termasuk sebagai pemanfaatan sampah buah nanas oleh masyarakat desa itu sendiri. Ada petani yang lebih condong menggunakan koagulan yang gratis dan mudah didapat disekitar mereka, daripada menggunakan koagulan pasaran. Terutama bila mereka harus pergi ke pasar yang jaraknya cukup jauh dari desa mereka untuk mendapatkannya

Penelitian ini dilatar belakangi oleh adanya pertanyaan dari petani karet sendiri tentang kelayakan penggunaan koagulan-koagulan seperti nanas dan gadung, karena pemerintah sekarang sedang gencar-gencarnya menerapkan program Bokar Bersih dan menyatakan bahwa penggunaan koagulan seperti ini dapat merusak karet, sedangkan mereka sendiri telah lama dan terbiasa menggunakan jenis koagulan alami tersebut. Sehingga kami melakukan penelitian ini guna mengetahui apakah umbi gadung dan tongkol nanas dapat dianggap layak digunakan sebagai koagulan yang digunakan oleh masyarakat desa. Terutama dalam pengaruhnya terhadap kualitas karet yang dihasilkan, seperti nilai PRI, PO dan kadar nitrogen. Dan pengolahan khusus pada koagulan tersebut dengan layak agar dapat mengurang zat pengotor yang terkandung didalamnya.

1.2 Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana yang melatar belakangi terjadinya prakoagulasi pada getah karet (lateks)?
2. Bagaimana efektifitas umbi akar pohon gadung dan tongkol nanas sebagai koagulan lateks?
3. Bagaimanakah kualitas lateks yang diperoleh apabila umbi akar pohon gadung dan tongkol nenas digunakan sebagai koagulan?

1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mempelajari proses terjadinya peristiwa prakoagulasi pada getah karet (lateks).
2. Mengukur kemampuan umbi akar pohon gadung dan tongkol nenas sebagai koagulan untuk mempercepat proses prakoagulasi.
3. Membandingkan kualitas lateks hasil prakoagulasi menggunakan umbi akar pohon gadung dan tongkol nenas sebagai koagulan.

1.4 Manfaat Penelitian
Adapun luaran yang diharapkan dalam penelitian ini adalah:
1. petani karet dapat memanfaatkan umbi akar pohon gadung dan tongkol nenas sebagai koagulan alternatif pengganti tawas dan NPK.
2. Pengembangan teknik prakoagulasi lateks yang lebih inovatif
3. Mengundang minat mahasiswa dalam mengembangkan IPTEK terutama pada bidang teknologi perkebunan.
4. Mengaplikasikan ilmu keteknik-kimiaan khususnya dalam bidang teknologi teknik indusri pertanian dan perkebunan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Lateks
Lateks yang berasal dari pohon Hevea Brasiliensis terdiri dari satu suspensi koloidal dari air dan bahan – bahan kimia yang terkandung didalamnya. Bagian -bagian yang terkandung tersebut tidak larut sempurna melainkan terpencar homogen atau merata di dalam air. Partikel – partikel koloidal ini sedemikian kecil dan halus sehingga dapat menembus saringan. Susunan bahan lateks dapat dibagi menjadi dua komponen. Komponen pertama adalah bagian yang mendispersikan atau memancarkan bahan – bahan yang terkandung secara merata yang disebut dengan serum yang mengandung bagian – bagian bukan karet yang melarut dalam air seperti protein, garam – garam mineral, enzim – enzim. Komponen kedua adalah bagian yang didispersikan atau dipencarkan yang terdiri dari butir – butir yang dikelilingi lapisan tipis protein. Lateks yang berasal dari pohon Havea brasiliens terdiri dari 2 bahan utama yaitu partikel – partikel karet (rubber particle) dan bahan bukan karet (non rubber). Sebelum tercampur atau terkontaminasi dengan bahan – bahan lain latek itu mempunyai pH normal yaitu ± pH : 6,9 – 7,0 cair dan bersifat kolloid dan stabil. Kestabilan koloid lateks tersebut akan dapat terganggu oleh berbagai faktor segera setelah latek keluar dari pohon (setelah disadap) misalnya terganggu oleh bakteri atau enzim yang berasal dari udara luar atau dari peralatan pekerja, akibat perubahan suhu dan lain sebagainya. Pengaruh faktor luar itu dapat mengakibatkan menurunnya mutu latek yang akan diolah menjadi berbagai jenis produksi.( Polthamas, 1962)

Banyak hal yang dapat menyebabkan terjadinya prakoagulasi. Bukan hanya penyebab dari dalam seperti jenis karet yang ditanam atau bahan – bahan enzim saja, melainkan juga hal – hal dari luar keadaan cuaca dan system pengangkutan yang seolah tidak berhubungan. Penyebab terjadinya prakoagulasi antara lain sebagai berikut :

1. Jenis karet yang ditanam
Perbedaan antara jenis yang ditanam akan menghasilkan lateks yang berbeda – beda pula. Otomatis kestabilan atau kemantapan koloidalnya berbeda. Klon – klon tertentu ada yang rendah kadar kestabilannya.
2. Enzim – enzim
Enzim dikenal sebagai biokatalis yang mampu mempercepat berlangsungnya suatu reaksi walaupun hanya terdapat dalam jumlah kecil. Cara kerjanya adalah dengan mengubah susunan protein yang melapisi bahan – bahan karet. Akibatnya kemantapan lateks berkurang dan terjadilah prakoagulasi. Biasanya enzim – enzim mulai aktif setelah keluar dari batang karet yang disadap.
3. Mikroorganisme atau Jasad – jasad Renik
Mikroorganisme banyak terdapat dilingkungan perkebunan karet. Jasad ini dapat berada dipepohonan, udara, tanah, air, atau menempel pada alat – alat yang digunakan. Lateks yang berasal dari pohon karet yang sehat dan baru disadap dapat dikatakan steril atau bersih sama sekali dari mikroorganisme.
4. Faktor Cuaca atau musim
Faktor cuaca atau musim sering menyebabkan timbulnya prakoagulasi. Pada saat tanaman karet menggugurkan daunnya prakoagulasi terjadi lebih sering. Begitu juga pada saat musim hujan. Lateks yang baru disadap mudah menggumpal jika terkena sinar matahari yang terik karena kestabilan koloidalnya rusak oleh panas yang terjadi.
5. Kondisi Tanaman
Tanaman karet yang disadap sakit, masih muda atau telah tua bisa mempengaruhi prakoagulasi. Penyadapan pada tanaman yang belum siap sadap akan menghasilkan lateks yang kurang mantap, mudah menggumpal. Hasil sadapan tanaman yang menderita penyakit fisiologi sering membeku dalam mangkuk.
6. Air Sadah
Air sadah adalah air yang memiliki reaksi kimia, biasanya bereaksi asam. Apabila air tercampur kedalam lateks, maka prakoagulasi akan terjadi dengan cepat, untuk menjaga jangan sampai air sadah dipakai dalam pengolahan, maka dilakukan analisis kimia.
7. Cara Pengangkutan
Sarana transportasi baik jalan atau kendaraan yang buruk akan menambah frekuensi terjadinya prakoagulasi. Jalan yang buruk atau angkutan yang berguncang mengakibatkan lateks yang diangkut terkocok – kocok secara kuat sehingga merusak kestabilan koloidal.
8. Kotoran atau bahan – bahan lain yang tercampur
Prakoagulasi sering terjadi karena tercampur kotoran atau bahan lain yang mengandung kapur atau asam.(Tim penulis PS, 2005)
Lateks pekat merupakan produk olahan lateks alam yang dibuat dengan proses tertentu. Pemekatan lateks alam dilakukan dengan menggunakan empat cara yaitu: sentrifugasi, pendadihan, penguapan, dan elektrodekantasi. Diantara keempat cara tersebut sentrifugasi dan pendadihan merupakan cara yang telah dikembangkan secara komersial sejak lama. Pemekatan lateks dengan cara sentrifugasi dilakukan menggunakan sentrifuge berkecepatan 6000-7000 rpm. Lateks yang dimasukkan kedalam alat sentrifugasi (separator) akan mengalami pemutaran yaitu gaya sentripetal dan gaya sentrifugal. Gaya sentrifugal tersebut jauh lebih besar daripada percepatan gaya berat dan gerak brown sehingga akan terjadi pemisahan partikel karet dengan serum.
Bagian serum yang mempunyai rapat jenis besar akan terlempar ke bagian luar (lateks skim) dan partikel karet akan terkumpul pada bagian pusat alat sentrifugasi. Lateks pekat ini mengandung karet kering 60%, sedangkan lateks skimnya masih mengandung karet kering antara 3-8% dengan rapat jenis sekitar 1,02 g/cm3. Pemekatan lateks dengan cara pendadihan memerlukan bahan pendadih seperti Natrium atau amonium alginat, gum tragacant, methyl cellulosa, carboxy methylcellulosa dan tepung iles-iles. Adanya bahan pendadih menyebabkan partikel-partikel karet akan membentuk rantai-rantai menjadi butiran yang garis tengahnya lebih besar. Perbedaan rapat jenis antara butir karet dan serum menyebabkan partikel karet yang mempunyai rapat jenis lebih kecil dari serum akan bergerak keatas untuk membentuk lapisan, sedang yang dibawah adalah serum. Mutu lateks yang dihasilkan ditentukan berdasarkan spesifikasi menurut ASTM dan SNI. Menurut ASTM lateks pekat dibagi menjadi 3 jenis berdasarkan sistem pengawetan dan metode pembuatannya yaitu : (Sudarman ,2010)
1. Jenis I : Lateks pekat pusingan dengan amonia saja atau dengan pengawet formaldehida dilanjutkan dengan pengawet amonia.
2. Jenis II : Lateks pekat pendadihan yang diawetkan dengan amonia saja atau dengan pengawet formaldehida dilanjutkan dengan amonia.
3. Jenis III : Lateks pusingan yang diawetkan dengan kadar amonia rendah dan bahan

2.2. Prakoagulasi
Pada saat mulai keluar dari pohon hingga beberapa jam lateks masih berupa cairan, tetapi setelah kira-kira 8 jam lateks mulai mengental dan selanjutnya membentuk gumpalan karet. Penggumpalan (prakoagulasi) dapat dibagi 2 yakni;. penggumpalan spontan dan penggumpalan buatan.
Penggumpalan spontan biasanya disebabkan oleh pengaruh enzim dan bakteri, aromanya sangat berbeda dari yang segar dan pada hari berikutnya akan tercium bau yang busuk. Sedangkan penggumpalan buatan biasanya dilakukan dengan penambahan asam. Prakoagulasi terjadi karena kemantapan bagian koloidal yang terkandung dalam lateks berkurang. Bagian-bagian koloidal ini kemudian menggumpal menjadi satu dan membentuk komponen yang berukuran lebih besar. Komponen koloidal yang lebih ini akan membeku. Inilah yang menyebabkan terjadinya prakoagulasi. Getah karet atau lateks sebenarnya merupakan suspensi koloidal dari air dan bahan-bahan kimia yang terkandung didalamnya. Bagian- bagian yang terkandung tersebut tidak larut sempurna, melainkan terpencar secara homogen atau merata di dalam air. Partikel-partikel koloidal ini sedemikian kecil dan halusnya sehingga dapat menembus saringan. Susunan bahan lateks dapat dibagi menjadi dua komponen. Komponen pertama adalah bagian yang mendispersikan atau memancarkan bahan-bahan yang terkandung secara merata, biasa disebut serum. Bahan-bahan bukan karet yang larut dalam air, seperti protein, garam-garam mineral, enzim dan lain-lain termasuk ke dalam serum. Komponen kedua adalah bagian yang didispersikan atau dipancarkan. Komponen kedua ini terdiri dari butir-butir karet yang dikelilingi lapisan tipis protein. Sebenarnya sistem koloidal bisa dipertahankan agak lama sampai satu hari lebih, sebab bagian-bagian karet yang dikelilingi oleh lapisan tipis sejenis protein mempunyai kestabilan sendiri. Stabilisatornya adalah lapisan protein yang mengelilingi tersebut. Dengan berkurangnya kestabilan ini terjadilah prakoagulasi.

Penyebab terjadinya prakoagualasi antara lain sebagai berikut :
1. Penambahan asam organik ataupun anorganik mengakibatkan turunnya pH lateks titik isoelektriknya sehingga lateks kebun membeku (pH lateks kebun 6,9).
2. Mikroorganisme – Lateks segar merupakan media yang baik bagi pertumbuhan mikroorganisme, mikroorganisme banyak terdapat dilungkungan perkebunan karet (pepohonan, udara, tanah, air atau pada alat-alat yang digunakan) – Mikroorganisme ini menghasilkan asam-asam yang menurunkan pH mencapai titik isoelektrik sehingga lateks membeku serta menimbulkan rasa bau karena terbentuknya asam-asam yang mudah menguap (volatile fatty acid). Bila banyak mikroorganisme maka senyawa asam yang dihasilkan akan banyak pula. – Suhu udara yang tinggi akan lebih mengaktifkan kegiatan bakteri, sehingga dalam penyadapan ataupun pengangkutan diusahakan pada suhu rendah atau pagi.
3. Iklim – Air hujan akan membawa zat penyamak, kotoran dan garam yang larut dari kulit batang. Zat-zat ini akan mengkatalisis terjadingan prakoagualasi. – Lateks yang baru disadap juga mudah menggumpal jika terkena sinar matahari yang terik karena kestabilan koloidnya rusak oleh panas yang terjadi.
4. Pengangkutan – Pengangkutan yang terlambat ataupun jarak yang jauh menyebabkan lateks baru tiba ditempat pengolahan pada siang hari dan sempat terkena matahari sehingga mengganggu kestabilan lateks.
5. Kotoran atau bahan-bahan lain yang tercampur
– Lateks akan mengalami prakoagulasi bila dicampur dengan air kotor, terutama air yang mengandung logam atau elektrolit.
– Prakoagulasi juga sering terjadi karena tercampurnya kotoran atau bahan lain yang mengandung kapur atau asam (Zurha, Cut Fatima, 2006)

2.3 KARET (pohon karet)
Tanaman karet merupakan tanaman perkebunan yang tumbuh di berbagai wilayah di Indonesia. Karet merupakan produk dari proses penggumpalan getah tanaman karet (lateks). Pohon karet normal disadap pada tahun ke-5. Produk dari penggumpalan lateks selanjutnya diolah untuk menghasilkan lembaran karet (sheet), bongkahan (kotak), atau karet remah (crumb rubber) yang merupakan bahan baku industri karet. Ekspor karet dari Indonesia dalam berbagai bentuk, yaitu dalam bentuk bahan baku industri (sheet, crumb rubber, SIR) dan produk turunannya seperti ban, komponen, dan sebagainya. .(Anonim1,2010)

2.4 Penggolongan / Klasifikasi dalam Komoditi Karet
Karet adalah tanaman perkebunan tahunan berupa pohon batang lurus. Pohon karet pertama kali hanya tumbuh di Brasil, Amerika Selatan, namun setelah percobaan berkali-kali oleh Henry Wickham, pohon ini berhasil dikembangkan di Asia Tenggara, di mana sekarang ini tanaman ini banyak dikembangkan sehingga sampai sekarang Asia merupakan sumber karet alami. Di Indonesia, Malaysia dan Singapura tanaman karet mulai dicoba dibudidayakan pada tahun 1876. Tanaman karet pertama di Indonesia ditanam di Kebun Raya Bogor. Indonesia pernah menguasai produksi karet dunia, namun saat ini posisi Indonesia didesak oleh dua negara tetangga Malaysia dan Thailand. Lebih dari setengah karet yang digunakan sekarang ini adalah sintetik, tetapi beberapa juta ton karet alami masih diproduksi setiap tahun, dan masih merupakan bahan penting bagi beberapa industri termasuk otomotif dan militer.
Klasifikasi botani tanaman karet adalah sebagai berikut: .(Anonim1, 2001)
-Divisi : Spermatophyta
-Sub divisi : Angiospermae
-Kelas : Dicotyledonae
-Keluarga : Euphorbiaceae
-Genus : Hevea
-Spesies : Hevea brasiliensis.

2.5 Partikel lateks
Setiap bagian pohon karet jika dilukai akan mengeluarkan getah susu yang disebut “lateks”. Banyak tanaman jika dilukai atau disadap mengeluarkan cairan putih yang menyerupai susu, tetapi hanya beberapa jenis pohon saja yang menghasilkan karet. Diantara tanaman tropis hanya Havea bracileansis (Family Euphorbiaceace) yang telah dikembangkan dan mencapai tingkat perekonomian yang penting.
Komposisi lateks Havea bracileansis L dapat dilihat jika lateks disentrifugasi dengan kecepatan 18.000 rpm, yang hasilnya adalah sebagai berikut:
1. Fraksi lateks (37%): karet (isoprene), protein, lipida dan ion logam
2. Fraksi Frey wyssling (1-3%): karotenoid, lipida, air, karbohidrat dan inositol, protein dan turunannya
3. Fraksi serum (48%) : senyawaan Nitrogen, asam nukleat dan nukleotida, senyawa organik, ion anorganik dan logam.
4. Fraksi dasar (14%) : air, protein dan senyawa nitrogen, karet dan karotenoid, lipida dan ion logam
Partikel karet didalam lateks tidak dapat saling berdekatan, karena masing masing partikel mempunyai muatan listrik. Gaya tolak menolak muatan listrik ini menimbulkan gerak brown (dapat dilihat dibawah mikroskop). Didalam lateks, isoprene diselaputi oleh lapisan protein sehingga partikel karet bermuatan listrik.
Protein merupakan gabungan dari asam asam amino yang bersifat dipolar (dalam keadaan netral mempunyai dua muatan listrik) dan amphoter (dapat bereaksi dengan asam atau basa) dengan rumus sebagai berikut :

2.6 Perbedaan Karet Alam Dengan Karet Sintesis
Walaupun karet alam sekarang jumlah produksi dan konsumsinya jauh dibawah karet sintesis atau karet buatan pabrik, tetapi sesungguhnya karet alam belum dapat digantikan oleh karet sintesis. Bagaimanapun keunggulan yang dimiliki karet alam sulit ditandingi oleh karet sintesis. Adapun kelebihan-kelebihan karet alam dibanding karet sintesis adalah: (Austin, 1985)
– Memiliki daya elestis atau daya lenting sempurna
– Memiliki plastisitas yang baik sehingga pengolahannya mudah
– Mempunyai daya aus yang tinggi
– Tidak mudah panas (low heat build up) dan
– Memiliki daya tahan yang tinggi terhadap keretakan (groove cracking resistance)
Walaupun demikian, karet alam juga memiliki kelemahan antara lain:
– Tahan terhadap zat kimia, dan
– Harga yang tidak dapat dipertahankan

Walaupun memiliki beberapa kelemahan dipandang dari sudut kimia maupun bisnisnya, akan tetapi menurut beberapa ahli, karet alam tetap memiliki pangsa pasar yang baik. Beberapa industri tertentu tetap memiliki ketergantungan yang besar terhadap pasokan karet alam, misalnya industri ban yang merupakan pemakai terbesar karet alam.
Beberapa jenis ban seperti ban radial walaupun dalampembuatannya dicampur dengan karet sintesis, tetapi jumlah karet alam yang digunakan tetap besar, yaitu dua kali lipat komponen karet alam untuk pembuatan ban non-radial. Jenis-jenis ban yang besar kurangbaik bila dibuat dari bahan karet sintesis yang lebih banyak. Porsi karet alam yang dibutuhkan untuk ban berukuran besar adalah jauh lebih besar. Ban pesawat terbang bahkan hampir semuanya dari bahan karet alam.
Dewasa ini jumlah produksi karet alam dan karet sintsis adalah 1:2. Walaupun jumlah produksi karet alam lebih rendah, bahkan hanya setengah dari produksi karet sintesis tetapi sesungguhnya jumlah produksi dan kosumsi kedua jenis karet ini hampir sama. Dua jenis karet ini sebenarnya memiliki pasar tersendiri. Karet alam dan karet sintesis sesungguhnya tidak saling mematikan atau brsaing penuh. Keduanya memiliki sifat saling melengkapi atau komplementer.(Austin, 1985)

2.7 Jensi-Jenis Karet Alam
Ada beberapa macam karet alam yang dikenal, diantaranya merupakan bahan olahan. Bahan olahan ada yang setengah jadi atau sudah jadi. Ada juga karet yang diolah kembali berdasarkan bahan karet yang sudah jadi. Jenis-jenis karet alam yang dikenal luas adalah :
a. Bahan olah karet
Bahan olah karet adalah lateks kebun serta gumpalan lateks kebun yang diperoleh dari pohon karet hevea brasiliensis. Beberapa kalangan mengatakan bahwa bahan olah karet bukan produksi perkebunan besar, melainkan merupakan bokar (bahan olah karet rakyat) karena biasanya diperoleh dari petani yang mengusahakan kebun karet. Menurut pengolahannya bahan olah karet dibagi menjadi 4 macam :

1. Lateks kebun adalah cairan getah yang didapat dari bidang sadap pohon karet. Cairan getah ini belum mengalami penggunpalan entah itu dengan tambahan atau tanpa bahan pemantap (zat antikoagulan).
2. Sheet angin adalah bahan olah karet yang dibuat dari lateks yang sudah disaring dan digumpalkan dengan asam semut, berupa karet sheet yang sudah digiling tetapi belum jadi.
3. Slab tipis adalah bahan olah karet yang terbuat dari lateks yang sudah digumpalkan dengan asam semut.
4. Lump segar adalah bahan olah karet yang bukan berasal dari gumpalan lateks kebun yang terjadi secara alamiah dalam mangkuk penampung.
b. Karet alam konvensional
Ada beberapa macam karet olahan yang tergolong karet alam konvensional. jenis ini pada dasarnya hanya terdiri dari golongan karet sheet dan crepe. Jenis-jenis karet alam yang tergolong konvensional adalah sebagai berikut :
1. Ribbed smoked sheet (RSS) adalah jenis karet berupa lembaran sheet yang mendapat proses pengasapan dengan baik.
2. White crepe dan pale crepe adalah jenis crepe yang berwarna putih atau muda dan ada yang tebal dan tipis.
3. Estate brown crepe adalah jenis crepe yang berwarna cokelat dan banyak dihasilkan oleh perkebunan-perkebunan besar atau estate. Jenis ini juga dibuat dari bahan yang kurang baik atau jelek seperti yang digunakan untuk pembuatan off crepe serta dari sisa lateks, lump atau koagulum yang berasal dari prakoagulasi, dan scrap atau lateks kebun yang sudah kering di atas bidang penyadapan.
4. Compo crepe adalah jenis crepe yang dibuat dari bahan lump, scrap pohon, potongan-potongan sisa dari RSS atau slab basah.
5. Thin brown crepe remilis adalah crepe coklat yang tipis karena digiling ulang.
6. Thick blanket crepes ambers adalah crepe blanket yang tebal dan berwarna coklat, biasanya dibuat dari slab basah, sheet tanpa proses pengasapan dan lump serta scrap dari perkebunan atau kebun rakyat yang baik mutunya. Scrap tanah tidak boleh digunakan.
7. Flat bark crepe adalah karet tanah atau earth rubber, yaitu jenis crepe yang dihasilkan dari scrap karet alam yang belum diolah, termasuk scrap tanah yang berwarna hitam.
8. Pure smoked blanket crepe adalaha crepe yang diperoleh dari penggilingan karet asap yang khusus berasal dari RSS, termasuk juga block sheet atau sheet bongkah, atau dari sisa pemotongan RSS. Jenis karet lain atau bahan bukan karet tidak boleh digunakan.
9. Off crepe adalah crepe yang tidak tergolong bentuk beku atau standar. Biasanya tidak dibuat melelui proses pembekuan langsung dari bahan lateks yang masih segar, melainkan dari contoh-contoh sisa penentuan kadar karet kering, lembaran-lembaran RSS yang tidak bagus penggilingannya sebelum diasapi, busa-busa dari lateks, bekas air cucian yang banyak mengandung lateks serta bahan-bahan lain yang jelek.
c. Lateks Pekat
Lateks pekat adalah jenis karet yang berbentuk cairan pekat, tidak berbentuk lembaran atau padatan lainnya. Lateks pekat dijual di pasaran ada yang dibuat melalui proses pendadihan atau creamed lateksdan melalui proses pemusingan atau centrifuged lateks. Biasanya lateks pekat banyak digunakan untuk pembuatan bahan- bahan karet yang tipis dan bermutu tinggi.
d. Karet bongkah (block rubber)
Karet bongkah adalah karet remah yang telah dikeringkan dan dikilang menjadi bandela-bandela denga ukuran yang telah ditentukan. Karet bongkah ada yang berwarna muda dan setiap kelasnya mempunyai kode warna tersendiri.
e. Karet spesifikasi teknis (crumb rubber)
Karet spesifikasi teknis adalah karet alam yang dibuat khusus sehingga terjamin mutu teknisnya. Penetapan mutu juga didasarkan pada sifat-sifat teknis. Warna atau penilaian visual yang menjadi dasar penentuan golongan mutu pada jenis karet sheet, crepe maupun lateks pekat tidak berlaku pada jenis Tyre rubber . Tyre rubber adalah bentuk lain dari karet alam yang dihasilkan sebagai barang setengah jadi sehingga bisa langsung dipakai oleh konsumen, baik untuk pembuatan ban atau barang yang menggunakan bahan baku karet alam lainnya.
g. Karet reklim (reclaimed rubber)
Karet reklim adalah karet yang diolah kembali dari barang-barang karet bekas, terutama ban-ban mobil bekas dan bekas ban-ban berjalan. Karenanya boleh dibilang karet reklim dalah suatu hasil pengolahan scrap yang sudah divulkanisir. Biasanya karet reklim banyak dipakai sebagai bahan campuran sebab bersifat mudah mengambil bentuk dalam acuan serta daya lekat yang dimilikinya juga baik. Produk yang dihasilkan lebih kukuh dan tahan lama dipakai, lebih tahan terhadap bensin atau minyak pelumas. Tetapi karet reklim kurang kenyal dan kurang tahan gesekan sesuai dengan sifatnya sebagai karet bekas pakai. (Anonim1, 2001)

Gambar 2. Pohon karet

2.8 Manfaat Karet Alam
Karet alam banyak digunakan dalam industri-industri barang. Barang yang dibuat dari karet alam antara lain aneka ban kendaraan (dari sepeda, motor, mobil, traktor, hingga pesawat terbang) sepatu karet, sabuk, penggerak mesin besar dan mesin kecil, pipa karet, kabel, isolator dan bahan-bahan pembungkus logam. Bahan baku karet banyak digunakan untuk membuat perlengkapan seperti sekat atau tahanan alat-alat penghubung dan penahan getaran, misalnya shockabsorbers. Karet juga bisa dgunakan untuk tahanan dudukan mesin. Pemakaian lapisan karet pada pintu, kaca pintu, kaca mobil dan pada alat-alat lain membuat pintu terpasang kuat dan tahan getar serta tidak tembus air. Dalam pembuatan jembatan sebagai penahan getaran juga digunakan karet. Bahan karet yang diperkuat dengan benang-benang sehingga cukup kuat, elastis dan tidak menimbulkan suara yang berisik dapat dipakai sebagai tali kipas mesin.
Sambungan pipa minyak, pipa air, pipa udara dan macam-macam oil seals banyak juga yang menggunakan bahan baku karet, walau kini ada yang menggunakan bahan plastik. Bagian-bagian ruang atau peralatan-peralatan yang terdapat dalam bagunan-bangunan besar banyak yang dibuat dari bahan karet, seperti alas lantai dari karet yang dapat dibentuk dengan bermacam-macam warna dan desain yang menarik. Alat-alat rumah tangga dan kantor seperti kursi, lem, perekat barang, selang air, kasur busa serta peralatan menulis juga menggunakan karet sebagai bahan pembuatnya. Peralatan dan kenderaan perang juga banyak yang bagian- bagiannya dibuat dari karet, misalnya pesawat tempur, tank, panser berlapis baja, truk-truk besar, dan jeep. Sebagai pencegah lecet atau rusaknya kulit dan kuku ternak karena lantai semen yang keras, maka alas lantai yang dibuat dari karet banyak dipergunakan di peternakan-peternakan besar. Alas lantai dari karet ini mudah dibersihkan dan cukup meyehatkan bagi ternak seperti sapi dan kerbau. (Zurha, Cut Fatima, 2006)
\
Gambar 3. turunan dari komoditi karet

2.10 Gadung
Gadung (Dioscorea hispida Dennst atau Dioscoreaceae) tergolong tanaman umbi-umbian yang cukup populer walaupun kurang mendapat perhatian. Gadung menghasilkan umbi yang dapat dimakan, namun mengandung racun yang dapat mengakibatkan pusing dan muntah apabila kurang benar pengolahannya. Produk gadung yang paling dikenal adalah dalam bentuk keripik meskipun rebusan gadung juga dapat dimakan. Umbinya dapat pula dijadikan arak (difermentasi) sehingga di Malaysia dikenal pula sebagai ubi arak, selain taring pelandok.
Tumbuhan gadung berbatang merambat dan memanjat, panjang 5 – 20 m. Arah rambatannya selalu berputar ke kiri (melawan arah jarum jam, jika dilihat dari atas). Ciri khas ini penting untuk membedakannya dari gembili (D. aculeata) yang memiliki penampilan mirip namun batangnya berputar ke kanan. Batangnya kurus ramping, setebal 0,5 – 1 cm, ditumbuhi duri atau tidak, hijau keabu-abuan.Daun-daunnya terletak berseling, dengan tiga anak daun menjari, bentuk bundar telur atau bundar telur sungsang, tipis bagai kertas. Bunga jantan terkumpul dalam tandan di ketiak; bunga betina majemuk berbentuk bulir. Umbinya terbentuk dalam tanah, berjumlah banyak dan tak beraturan bentuknya, menggerombol dalam kumpulan hingga selebar 25 cm.
Ada beberapa varietasnya, di antaranya yang berumbi putih ( yang besar dikenal sebagai gadung punel atau gadung ketan, sementara yang kecil berlekuk-lekuk disebut gadung suntil ) dan yang berumbi kuning ( antara lain gadung kuning, gadung kunyit atau gadung padi ). (Sunardi, H. 1996.)
Kandungan kimia yang dikandung tumbuhan gadung adalah dioscorine (racun penyebab kejang), saponin, amilum, CaC2O4, antidotum, besi, kalsium, lemak, garam, fosfat, protein, dan vitamin B1. Bagian yang bisa dimanfaatkan sebagai obat adalah umbinya. Menurut pakar tanaman obat, Prof Hembing Wijayakusuma dalam bukunya Tumbuhan Berkhasiat Obat, penyakit yang bisa diatasi dengan gadung adalah rematik. Umbi gadung bisa digunakan sebagai obat luar atau obat dalam. Pada pemakaian luar, umbi gadung diparut dan ditempelkan pada bagian yang sakit. Untuk pemakaian dalam, 15 sampai 30 gram umbi gadung segar atau 5 gram kering direbus lalu airnya diminum atau dijadikan keripik lalu dimakan. Mengatasi rematik, 30 gram umbi gadung, 10 gram jahe merah, direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc lalu disaring dan diminum airnya. Lakukan secara rutin.(Anonim2, 2010)

Gambar 4. Gadung
2.10 Buah Nenas
Nanas berasal dari Brasil. Di Indonesia, nanas ditanam di kebun-kebun, pekarangan, dan tempat-tempat lain yang cukup mendapat sinar matahari pada ketinggian 1-1300 m dpl. Nanas merupakan tanaman buah yang selalu tersedia sepanjang tahun. Herba tahunan atau dua tahunan, tingginya 50-150 cm, terdapat tunas merayap pada bagian pangkalnya. Daun berkumpul dalam roset akar dan pada bagian pangkalnya melebar menjadi pelepah. Helaian daun berbentuk pedang, tebal, liat, panjang 80-120 cm, lebar 2-6 cm, ujung lancip menyerupai duri, tepi berduri tempel yang membengkok ke atas, sisi bawah bersisik putih, berwarna hijau atau hijau kemerahan.
Bunga Majemuk tersusun dalam bulir yang sangat rapat. Letaknya terminal dan bertangkai panjang. Buahnya buah buni majemuk, bulat panjang, berdaging, berwarna hijau, jika masak warnanya menjadi kuning. Buah nanas rasanya enak, asam sampai manis. Bijinya kecil, seringkali tidak jadi. Buahnya selain di makan secara langsung, bisa juga diawetkan dengan cara direbus dan diberi gula, dibuat selai, atau dibuat sirop. Buah nanas juga dapat digunakan untuk memberi citarasa asam manis, sekaligus sebagai pengempuk daging. Daunnya yang berserat dapat dibuat benang ataupun tall. Tanaman buah nanas dapat diperbanyak dengan mahkota, tunas batang, atau tunas ketiak daunnya.(Anonim3, 2010)
Nanas adalah buah tropis dengan daging buah berwarna kuning memiliki kandungan air 90% dan kaya akan Kalium, Kalsium, lodium, Sulfur, dan Khlor. Selain itu juga kaya Asam, Biotin, Vitamin B12, Vitamin E serta Enzim Bromelin. Salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki hasil agroindustri nanas yang cukup populer adalah Sumatera Selatan. Nanas merupakan komoditas unggulan di Sumatera Selatan. Nanas dihasilkan dari sekitar Palembang, yang paling terkenal adalah nanas Prabumulih yang terkenal dengan rasa manisnya, konon nanas termanis di Indonesia berasal dari daerah ini.
Buah nanas mengandung vitamin (A dan C), Kalsium, Fosfor, Magnesium, Besi, Natrium, Kalium, Dekstrosa, Sukrosa (gula tebu), dan Enzim Bromelain. Bromelain berkhasiat antiradang, membantu melunakkan makanan di lambung, mengganggu pertumbuhan sel kanker, menghambat agregasi platelet, dan mempunyai aktivitas fibrinolitik. Kandungan seratnya dapat mempermudah buang air besar pada penderita sembelit (konstipasi). Daun mengandung kalsium oksalat dan pectic substances.(Fajar, 2008).

Comments on: "tentang karet" (4)

  1. Muhamad Safi'i said:

    Maaf sebelumnya pak, saya mahasiswa unpar.
    Apa saya boleh tau Hasil dari penelitian ini.

    • hasil dari penelitian ini, gadung dan nanas tergolong layak untuk koagulan terlebih untuk karet lump, namun kadar pengotornya masih diambang rata rata SIR, untuk mengurangi pengotornya. sari koagulannya harus disaring terlebih dahulu

  2. septriani said:

    mohon maaf, bagian pembahasannya ada gak y??boleh bagi gak..hehe//thx b4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: